Media, Pengabdian

Serunya Berbagi Kebahagiaan di ‘Happiness Festival’

Menjadi bahagia berarti selaras dengan apa yang ada di sekitar. Namun, untuk bisa mendapatkannya, seseorang mesti bisa menghayati dan mengamalkan tiga cara kebahagiaan. Apa saja? Menjaga keharmonisan hubungan antara dirinya dengan sesama manusia, dengan lingkungan alam, serta dengan sisi spiritualitasnya.

Beranjak dari pandangan ini, perayaan Happiness Festival 2019 yang ke-3 tahun ini lalu mengusung secara khusus tema ‘Alignment for Harmony’ atau Keselarasan Menuju Harmoni. Tujuannya, agar menciptakan kebahagiaan holistik bagi seluruh masyarakat di bumi dan juga makhluk hidup di dalamnya.

Poster Happiness Festival 2019

Digelar pada Sabtu-Minggu (27-28/4), di Lapangan Banteng, Jakarta, gelaran festival ini dihadiri lebih dari 10.000 happy-goers. Selain menyuarakan cara menggapai kebahagiaan, festival ini juga mengajak publik peduli lingkungan, dengan pengelolaan sampah sendiri, tak mengirimkannya ke TPA. 

“Kebahagiaan hanya dapat tercapai apabila kita bersatu, berkolaborasi dan bergotong-royong untuk menjalin harmoni dengan sesama. Kami mengajak seluruh masyarakat Indonesia dan Jakarta khususnya, untuk bergerak, mengambil peran untuk menghayati dan mengamalkan Tiga Cara Kebahagiaan,” ungkap Mari Elka Pangestu, President, United in Diversity.

Pertama memasuki area, tamu akan disambut dengan instalasi unik tulisan ‘Happiness Festival’ yang terpampang berukuran cukup besar. Acara dibuka dengan merajut kain warna-warni pada rangka tulisan tersebut yang bermaksud merajut harmoni dalam segala lini kehidupan. Selain itu ada pula rangkaian talkshow yang menginspirasi.

Selain menghadirkan dialog untuk memperkaya khasanah spiritual, sosial dan ekologi, festival yang diusung organisasi nirlaba Unity in Diversity ini mengajak para pengunjung untuk lebih mindful dalam membuang dan memilah sampah guna meningkatkan keharmonisan hubungan antara manusia dengan lingkungan alam. Untuk mewujudkannya, maka disediakanlah tiga jenis kantong sampah, yaitu residue, compostable dan non-compostable.

Kantong-kantong sampah ini dibuat dengan menggunakan Alat Peraga Kampanye dari Pemilu yang lalu, seperti spanduk, yang kemudian dijahit dan dijadikan kantong sampah. Sejatinya Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah terkait segregasi sampah.

“Dengan komitmen agar sampah yang dihasilkan oleh Happiness Festival tidak berakhir di TPA, kami berharap dapat mengedukasi masyarakat untuk memilah sampah sebelum membuanganya ke tong sampah. Jika sampah telah dipilah, sampah dapat memiliki nilai tambah, digunakan kembali dan tidak berbahaya bagi lingkungan serta makhluk hidup,” ungkap Rendy Aditya Wachid, Founder dari Parongpong Recycle and Waste.

Dari beberapa program yang diusungnya, Happiness Festival bertujuan untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk terlibat secara aktif, berkolaborasi dan mengambil tindakan nyata untuk mewujudkan ‘Tujuan Pembangunan Berkelanjutan’ dan mengatasi ‘ketidakharmonisan’ hubungan sosial, ekologikal, dan spiritual yang terjadi di Indonesia khususnya. 

Panggung terbuka Happiness Festival 2019 gagasan Yayasan Upaya Indonesia Damai (UID), 27-28 April 2019. Foto Dok. UID

Selain sejumlah talkshow, gelaran ini turut dimeriahkan oleh sederet Happiness Avengers, di antaranya Mari Elka Pangestu, Alissa Wahid, Nirina Zubir, Endah and Rhesa, Mocca, Glenn Fredly, Zero Waste Alliance, Jagadu.id, Andini Aisyah Hariadi (Andien), Silverius Oscar Unggul, dan Didiet Maulana. 

http://www.herworld.co.id/article/2019/4/11049-Serunya-Berbagi-Kebahagiaan-di-Happiness-Festival